Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Thursday, November 21, 2013

Kisah Tentang Pesan SMS

Semangat pagi kawan......! bagaimana kabar anda pagi ini, semoga baik dan tetap semangat! saya ingin sharing tentang pertemanan. kemarin secara tiba-tiba handphone (HP) saya berdering pertanda ada SMS baru yang masuk di Hp saya, setelah dibuka betapa kaget saya karena tidak mencantumkan identitas, nomornya pun juga baru. Itu artinya saya belum kenal betul siapa pengirim SMS itu. setelah saya membaca isi sms, intinya dia menyapa saya dan kayaknya sudah kenal saya, namun saya bingung kenal dimana kapan dan kenapa baru memberi kabar setelah menghilang 4 tahun lamanya?. sobat...,,, cuplikan cerita diatas bisa memberikan banyak hikmah, pertama: dalam kaitannya berhubungan interaksi antar seseorang melalui media seluler tentu memiliki sejumlah aturan yang disepakati bersama. secara umum jika orang yang kita hubungi itu belum mengenal kita tentu etika yang baik sebagai pengirim atau penelepon adalah menyampaikan data diri siapa kita dan apa hubungannya dengan dia yang kita beri pesan/ telepon. dengan begitu, dia tidak lantas dikejutkan dengan isi pesan kita yang tiba-tiba saja masuk di Hpnya dan apalagi tanpa ada inisial atau identitas. 
Kemudian, yang perlu kita perhatikan juga, janganlah kita bersikap sok akrab kepada seorang yang kita anggap sudah mengenal kita. Sebab bisa jadi sikap kita itu membuat dia tidak nyaman dan tergangu sebab kita jarang bertemu atau berkomunikasi lalu secara tiba-tiba saja setelah bertahun-tahun kemudian mengubungi dia seolah dia masih inget betul siapa kita. belum tentu begitu, sebab kenalan sekilas bisa saja hanya sebatas kenal dan tidak lebih dari sekedar hubungan sesaat. dengan model teman seperti ini tentu diantara keduanya tidak benar-benar mengenal. hanya saja salah satu dari keduanya ada yang masih ingat dan merasa kenal masa dia. sikap yang baik tentunya yang wajar-wajar saja agar dia tidak merasa bingung dan terganggu karena pesan kita yang mendadak tanpa ada pemberitahuan yang jelas siapa kita dan apa yang kita inginkan dari pesan itu. 
Persahabatan memang jauh lebih mendalam dari pada pertemanan, persahabatan adalah ibarat rantai yang saling mengikat kuat tanpa putus selama bertahun-tahun bahkan tidak akan bisa dilupakan karena menjadi bagian hidup seseorang. persahabatan tentu memiliki nilai tersendiri yang lebih mendalam dari pada sekedar pertemanan yang tidak ada komunikasi intesif antara keduanya. sebuah perkenalan akan dianggap wajar dan maklum ketika intensitas pertemuannya tidak terlalu jarang, artinya ketika kita merasa berteman dengan seseorang, dan kita sudah lama tidak berhubungan dengannya, namun karena perkenalan kita dengan dia sangat singkat bahkan tak terduga sebelumnya, maka jangan terburu-buru merasa sok akrab dengan dia, lebih-lebih kita sudah lama tidak berhubungan lagi. jika perkenalan itu kemudian berlanjut kepada seringnya ada pertemuan-pertemuan bareng maka itu wajar dan dia tidak menganggap kita asing dan sok kenal. sebab kita sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya  meski terakhir kali bertemu sudah bertahun-tahun lamanya dari sekarang, berbeda jika hanya perkenalan secara sekilas, spontan dan sifatnya hanya untuk mencairkan suasan saja, tentu hal ini lain dan perlu etika yang baik untuk mencoba menyambung pertemanan itu kembali karena kita merasa membutuhkannya. 
Terkahir, saya ingin bertanya kepada anda, bagaimana perasaan dan apa pendapat anda ketika tiba-tiba Handphone anda berdering dan pesan baru anda terima yang sisinya ternyata adalah sosok tak beridentitas yang mengaku pernah kenal dengan anda? tindakan apa yang anda lakukan secara spontan menghadapi hal ini? trimakasih telah membaca tulisan saya, jangan lupa memberi pendapat ya.....!
tada......,,, :) 

Friday, May 4, 2012


Bismillah.....,,,
Hikmah Dari Pesantren
Oleh:
Muhammad Bagus Jazuli, S.Pd.I.
Ini adalah sebuah cuplikan kisah tentang perjalanan saya ketika saya hidup di pesantren. Saya banyak sekali mendapatkan hal menarik dan berkesan dan masih membekas hingga saat ini, detik ini. Saya akan sharing kepada sahabat-sahabat semuanya semoga tidak hanya saya namun juga sahabat semuanya yang dapat memetik hikmahnya. Beginilah ceritanya:
Dulu ketika saya masih berada di pesantren tepatnya di jawa timur. Saya adalah siswa yang manja, dan tidak bisa hidup mandiri. Saya sejak kecil memang sangat dimanja oleh kedua orang tua saya. Ketika masa studi saya di tingkat sekolah dasar telah selesai, orang tua saya menyekolahkan saya di pesantren. Tentu suatu hal yang sangat asing ketika saya mendengar kata pesantren. Memang saya belum pernah tinggal di pesantren. Hanya mendengar saja cerita dari orang-orang tua ketika sedang ngobrol soal pesantren. Waktu itu saya sangat canggung, pemalu, dan menutup diri. Tidak berani menonjolkan diri. Maklum di dunia yang baru, saya di masa-masa awal tinggal di dalamnya sangat tidak biasa seperti dulu ketika dirumah. Dahulu ketika dirumah, saya tidak terlalu bersusah payah untuk mengurus kebutuhan sehari-hari saya, seperti mencuci pakaian, memasak, dan saya lebih  sering bermain. Sebab semua sudah di urus oleh ibuku. Namun kini ketika saya sudah tinggal di pesantren rasanya saya harus dipaksa oleh keadaan yang berbalik 100% dari kebiasaan saya dulu waktu masih dirumah.
Sebuah babak baru......
Nah, sobat,,,,, inilah apa yang saya memberi nama babak baru dalam hidupku...,,, ketika saya harus mau tidak mau berubah dengan terpaksa atapun suka rela. Tahukah sobat, mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Ketika saya di pesantren. Saya harus mulai belajar hidup mandiri, kebutuhan sehari-hari harus dikerjakan sendiri. Belum lagi harus menjalani rangkaian kegiatan pesantren yang cukup padat sejak bangun pagi hingga tiba saat istirahat malam. Sungguh sebuah perjuangan bagi saya sebagai anak yang selalu dimanjakan. Dengan usaha keras, penuh cobaan, saya mencoba memaksakan diri pelan-pelan untuk mengubah kebiasaan saya. Secara bertahan, saya mencoba mencuci pakaian sendiri, walau agak grogi plus bingung bagaimana cara mencuci. Wajar saja, sebab saya tidak pernah mencuci sebelum saya tinggal di pesantren. Saya juga harus rela ditinggal pulang orang tua saya. Sebab tidak mungkin orang tua terus menunggui saya di pesantren. Namanya saja pesantren tempat para santri menimba ilmu, identik dengan merantau mencari kemuliaan, Jadi jauh dari kampung dimana saya tinggal. Saya masih ingat ketika hari pertama saya harus berpisah dengan orang tua saya. Saya tak kuasa menahan tangis pun juga orang tua saya. Air mata Mereka berdua berlinang...., menetes di pipinya. Mereka seolah tak sanggup melepaskan anaknya hidup sendiri, namun merek berdua sadar, sudah saatnya anaknya belajar hidup mandiri. Keputusan kedua orang tua saya memang beralasan. Akupun sangat sedih, tetapi saya sudah bertekad bulat untuk hidup di perantauan yaitu di pesantren. Saya harus berpisah dengan merek berdua. Hik hik hik....,,, ayaaaaaaah.. bunda................,, hati kecilku tersayat ketika pelan pelan mereka berdua melepas kan dan aku masih ingat mereka berdua berjalan langkah demi langkah pergi setelah mengecup kening saya...
Tak terasa 6 tahun sudah saya akhirnya mampu menjalani seluruh rangkaian kehidupan di dunia pesantren. Suka duka sangat banyak sekali saya dapatkan. Antara lain tentang kemadirian, hidup bersosial, keberanian, sikap mental, kesungguhan, teladan, dan masih banyak lagi. Sebuah contoh kecil saja. Saya sangat bersyukur sekali, dengan mengucapkan alhamdulilah, kini saya baru merasakan sebuah hikmah hidup di pesantren. Diatara hikmahnya saya kini menjadi lebih berani untuk tampil di depan publik. Sobat yang saya banggakan, andai saja dulu saya tidak dipaksa untuk menjadi penceramah ketika di pesantren (waktu itu tepatnya adalah ketika kegiatan rutin latihan pidato tiga bahasa yaitu bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab) mungkin ceritanya lain, saya akan tetap menjadi pemuda yang pemalu serta penakut. Namun waktu itu saya nekad dan alhamdulillah berkat keterpaksaan yang akhirnya semakin lama semakin terasa sebuah hal yang biasa. Sehingga kini saya tidak takut lagi berbicara di depan umum. Karena saya sudah sering berpidato di hadapan para santri ketika di pesantren. Saya masih ingat betul ketika tidak disiplin masuk kelas dan sering terlambat, Akhirnya terkena hukuman. Harus mencuci bak mandi, mengepel lantai masjid dll. Namun sebuah hikmah tersendiri bagi saya. Kini saya sangat bersyukur bahwa semua hukuman itu merupakan bentuk tanggung jawab. Mengajarkan saya sebuah tanggung jawab, mengajarkan keberanian untuk siap menanggung akibat atas perbuatan yang saya lakukan. Yang sangat saya rasakan dalam hal ini adalah sebuah pendidikan kedisiplinan dalam menjalankan rutinitas sesuai jadwal yang telah ditetapkan.  Hingga kini, saya sangat merasakan betapa pentingnya hidup disiplin dalam segala hal.
Saya sangat bersyukur sekali dimana saya kini dapat melanjutkan studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sebuah terobosan baru dalam sejarah hidupku. Tak pernah saya sangka saya akan singgah untuk belajar di kota pelajar ini. Saya merenung sejenak apa yang mendorong saya untuk berani melangkahkan kaki ini hingga menuju kota pelajar demi menimba ilmu. Setelah melalui perenungan panjang saya baru sadar. Semua ini tidak lepas dari pengalaman hidup di pesantren dulu. Entah apa jadinya saya ketika dulu saya tidak hidup dan belajar di pesantren. Boro-boro bisa melanjutkan kuliah di Jogja. Bisa jadi saya sudah berumur namun belum juga bisa mengaji. Na’udzubillah mindzalik. Itulah beberapa hikmah perjalanan hidup saya yang saya petik dari kehidupan pesantren.
Sahabat-sahabat yang saya banggakan.......!
Mari kita yakini bersama, Bahwa sebuah pendidikan keteladanan memang sangat dibutuhkan sejak kita berada di masa remaja. Tepatnya ketika kita telah mulai mampu berpikir masa depan kita masing-masing. Sebab saat-saat itulah nanti yang akan menjadi sebuah inspirasi ketika kita telah dewasa. Percayalah, hidup mandiri akan sangat membawa pengaruh besar di masa depan. Dengan demikian, Semuanya patut menyadari pentingnya pendidikan kemandirian, penanaman karakter disiplin, ulet, berani dan bermental baja sejak di masa remaja sehingga masa depan kelak akan mampu dilalui dengan penuh percaya diri. Sekian.

Thursday, January 12, 2012

Uneg-Uneg Kang Santri

Di emperan masjid Al Ikhlas tampak seorang santri yang sedang santai bersandar di tembok menghadap kearah ufuk timur sambil se-sekali menghisap rokoknya. Itulah kang Ariffuddin yang akrab di panggil udin.Ia adalah santri tulen yang dah bertahun tahun nimbi ilmu di sebuah pondok pesantren salaf. Ia terkenal ahli pikir alias suka merenung , entah apa yang dia renungkan, saat itu suasana sepi dan hening, memang malam itu jam menunjukan pukul 00.00 wib dimana para santri sudah waktu istirahat, namun kang udin belum bisa tidur, dia masih mengepulkan asap rokoknya .

Sunday, May 15, 2011

belajar mengaji

Ahad, 15 Mei 2011

Gunung Kidul Yogyakarta

Pg td sekitar jam 08.00 wib telah bersiap berangkat ke gunungkidul, guna mejalankan amanah ikut membantu mencerdaskan anak-anak bangsa dengan belajar mengaji, tepatnya di desa nglaran gunung kidul. Seperti biasa memang saya beserta kang santri yang bernaung dibawah lembaga pengabdian & pengembangan masyarakat (LP2M) mendapatkan jadwal naik ke gunung kidul seminggu sekali tapnya setiap hari ahad. tak lupa saya panasi dulu mesin motornya, sebelum saya tancap biar larinya kencang. Pagi tadi memang cuaca sangat bersahabat tidak terlalu panas juga tidak terlalu mendung, ya sedang lah. Dengan mengucap bismillah motor saya kendarai, tangan memegang gas sambil konsentrasi mengaturnya. Perjalan joyga-gunungkidul di tempuh kurang lebih setengah jam. Kalau tidak terlalu ngebut ya setengah jam lebih sedikit lah kira-kira.

Alhamdulilah tepat pukul 09.00wib pagi kami berdua saya dan roro sudah sampai di nglaran tempat anak-anak mengaji dan belajar. Mereka memang anak-anak yang patut di banggakan. Sudah menunggu sebelum ustadnya datang. Ini sebuah penghormatan yang luar biasa bagi seorang guru. Langsung saja setelah sampai di tempat tujuan kami menuju masjid yang indah sebagai pusat kegiatan belajar.

Ada suatu hal yang menarik yang bisa diketahui. Pengalaman saya selama mengajar ngaji anak-anak di nglaran. Mereka sungguh anak yang kreatif, dinamis, tadi ketika seluruh anak diminta membuat puisi dan pantun yang kemudian mempresentasikan hasil usahanya, sungguh mengesankan. Ternyata mereka semua hebat, puisi mereka juga sarat dengan nasihat, motifasi dan luapan cinta sang anak kepada ayah dan bundanya. Saya sangat bangga melihat anak-anak belajar mandiri, aktif dan kreatif. Sikap yang masih kekanak-kanaan, polos, apa adanya, bermain itu semua dunia mereka. Saya mencoba sejenak menyelami dunia mereka selama satu jam bersama mereka. Memang begitulah jika ingin hubungan kita dengan anak menjadi lebih akrab. mEreka akan sangat senang ketika setiap usaha mereka selalu mendapatkan apresiasi walau hanya dengan sorak-sorak & tepuk tangan. Bagi mereka sebuah apresiasi sangat berharga. Sebaliknya sebaiknya tindakan marah-marah, merendahkan, dan menakut-nakuti sesegera mungkin untuk di hilangkan. Sebab cara-cara demikian ini tidak akan pernah efektif dan malah menimbulkan efek yang kurang baik pada psikologis anak.

Sebagai penutup kesimpulannya yaitu mari kita belajar menyelami karakter anak ketika kita sedang berada di dunia mereka. Jangan paksakan anak mengikuti dunia kita, justru sebaliknya, kitalah yang sebaiknya tenggelam dalam dunia mereka yang sarat dengan bermain,suka lari, suka ngomel, ngobrol, berkelakar dll. Yang penting kita sebagai pendidik tetap mempunyai batasan dan tujuan yang benar-benar jelas terarah dan berdasarkan pada sebuah tujuan. Bukan asal saja. Selain itu memosisikan anak pada posisi kakak-adik, atau teman-teman dalam proses belajar akan sangat memudahkan mereka serta mereka merasa aman dan bersahabat. Semoga mereka menjadi generasi masa depan yang tangguh dan berakhlakul karimah.amin


Saturday, May 14, 2011

Gotong-Royong Mrantas Gawe



Hari ini merupakan hari bersih bagi Nurul Ummah. Sesuai rencana bahwa seluruh keluarga besar komplek A dan C mengadakan kerja bakti masal memperbarui cat dinding tembok sekaligus merapikan barang bekas yang sudah lama mengendap di pinggir-pinggir tembok.
Sudah menjadi tradisi ma’had yang mengakar dan mendarah daging( bukan daging beneran lho..hehe) bahwa kegiatan kerja bakti adalah fardu a’in sifatnya. Jadi seluruh santri yang tidak ada udzur wajib ikut. Wah......,jadi jangan heran kalo suasana jadi mendadak ribut kaya’ orang mau demo...., coz seluruh santri terjun langsung di lapangan. Nah ini yang menarik, kalau sampai ada yang tidak ikut kerja bakti dan ketahuan...wah bakal di ‘’gojlok’’ habiz habizan, akan kena cap santri’’ ora duwe isen’’ artinya santri tidak tau malu sebab bagaimana tidak malu seluruh santri kerja malah enak-enakan berkatifitas sendiri. Filosofi santri nurul ummah berkata: “Kerja Bakti, Roan, Ngaji, Jamaah, Mutholaah Adalah Ruhul Ma’had”. Jadi tidak ada alasan untuk tidak ikut serta. Ada yang lebih ekstrim lagi, santri "golad" berkata: lek santri gak gelem melu kerja bakti, jamaah, ngaji dll kuwi podo karo ora ta’dzim karo pak kyai, “ artinya: kalau santri tidak pernah mau ikut kerja bakti, jamaah, dan ngaji dll, itu artinya santri tidak menghormati kyai’’. sebab kyai telah bersusah payang mengajari santri agar mau saling kerja sama, menghidupkan tradisi yang baik ini.
Nah seperti yang aku beritakan td bahwa acara kerja bakti kali ini di awali dengan memindahkan barang-barang bekas yang sudah lama kadalwarsa mendekam tanpa ada yang mau ngurus nasibnya seperti : manuskrip kuno (hehe..., coz tulisannya susah dibaca), truz baju2, celana dan maaf
...., yg sekeluarga dengan celana, itu barang tidak jelas nasibnya, cos tak satupun santri yang mau mengaku barang miliknya. Nah barang itu semua diungsikan ke tempat lain yang lebih aman.
Tahap selanjutnya , karena sesuai rencana tembok akan di cat, maka tembok harus di bersihkan dulu, dengan amplas, buat menggosok cat yang lama supaya kerak-kerak yang membandel bisa di lunakkan dan di usir dari dinding tembok. Wah... ada yang beda kali ini..., para santri bekerja enjoy sambil mendengarkan alunan musik... menambah gairah dan power kerja...., jadi tambah semangat. Sedikit-demi sedikit karena maraton dan yang kerja puluhan maka dengan sekejap tembok telah di amplas semua. Sekarang tinggal tahap berikutnya yaitu di cat.

Nah kali ini tidak semua santri dapat jatah ngecat tembok...coz kuasnya ga’ cukup hehe...., mosok puluhan santri pegang kuas semua mau butuh berapa kuas ......? jd it’s not efisien hehe.nah sebelun di cat sebagian kang santri sudah mempersiapkan adonan kue catnya. merek cat yang terkenal sejagad ini namanya 'decolit". nah adonan telah siap untuk di santap pake kuas dan di oleskan ke tembok hehe..,nah langsung dimulai saja dari tembok paling luar dulu kemudian ke dalam asrama. Rasanya kalau pas lagi gini ni....,, kelihatan banget tu rasa kebersamaan, solid, dan kerjasama yang baik....,
Wal hasil tepat sore hari kira-kira waktu sholat asar proses pengecetan usai. Alhamdulillah kini asrama komplek A dan C mahasiswa nurul ummah menjadi tambah indah, bersih dan rapi...., yah semoga tidak berhenti sampai di sini deh.
Ada hikmah yang dapat aku petik dari kerja bakti kali ini... simak ya hikmahnya;
‘’Semoga nilai-nilai yang terkandung dalam kerja bakti ini dapat membekas dalam hati para santri, dan melekat dalam karakter santri yang menjadi adat kebiasaan yang positif,’’
"Harapan ku kerja bakti ini bukan semata di maknai dari sisi dhohir saja.....namun yang lebih penting adalah bagaimana esesnsi dari kerja bakti ini, yaitu bagaimana akhlak kita semakin bertambah indah, hati kita bertambah bersih, lembut, selembut-sebersih dan seindah asrama kita yang baru di labur cat baru ini amin....
Nb : gambar diunduh dari situs :balchi69.blogspot.com/2009_06_01_archive.html